Resensi Novel Harimau! Harimau! Karya Mochtar Lubis

Novel Harimau! Harimau! Karya Mochtar Lubis

Judul buku : HARIMAU! HARIMAU!
Penulis : Mochtar Lubis
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun terbit : 1992
Kota : Jakarta
Tebal buku : 214
ISBN : 9789794611096

Novel karya Mochtar Lubis ini pertama kali diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1975. Sifatnya satire terhadap kepemimpinan bangsa Indonesia, karena isi cerita dari novel ini merujuk pada realita kehidupan politk di tengah masyarakat Indonesia ketika itu. Mochtar Lubis mencoba menguak kezaliman, kesewenang-wenangan, ketidakadilan, penindasan dan perilaku buruk lainnya yang lakukan pemerintah di zamannya itu.

Novel ini berkisah tentang apa yang banyak dirasakan dan dialami oleh masyarakat pada waktu itu. Kalau ditilik dari semua sisi, sepertinya, kisah dalam novel ini masih juga tepat dan pas dengan masa kini. Sayangnya banyak pembaca novel yang lebih senang membaca kisah yang ringan tanpa mereka harus berpikir mencerna apa yang ada di balik pembuatan novel tersebut.

Novel ini berisi petualangan di rimba raya oleh sekelompok pengumpul damar yang di buru oleh seekor harimau yang kelaparan. Berhari-hari mencoba menyelamatkan diri, sampai satu-persatu dari mereka menjadi korban terkaman harimau. Di bawah tekanan ancaman harimau , dalam diri mereka masing-masing terjadi pula proses refleksi mengenai diri mereka masing-masing, yang mempertinggi kesadaran mereka tentang kekuatan dan kelemahan-kelemahan anggota kelompok mereka yang lain.

Kisahnya tentang 7 orang pencari damar, yaitu Buyung, Wak Katok, Pak Haji, Pak Balam, Sutan, Sanip, dan Talib di hutan rimba Sumatera Tengah dan dalam perjalanan pulang ke rumah dengan membawa hasil. Dalam perjalanan itu, tak disangka seekor harimau besar membuntuti lalu menerkam salah seorang dari mereka. Peristiwa ini menimbulkan kepanikan sekaligus konflik psikologis, sosial dan moral di antara mereka.

Di antara mereka terjadi saling menuding dan mengungkapkan bahwa dosa-dosalah yang menyebabkan harimau itu menyerang. Namun, akhirnya harimau itu berhasil dibunuh mereka setelah Wak Katok yang diyakini memiliki mantra dan jimat palsu, berwibawa dan sakti harus tewas diterkam sang harimau.

Dalam novel ini juga diceritakan dengan lengkap dan terperinci bagaimana watak dan kepribadian masing-masing tokoh. Yang mana di setiap tokoh memiliki kebaikan dan keburukan. Novel ini berkisah tentang apa yang banyak dirasakan dan dialami oleh masyarakat pada waktu itu. Kalau ditilik dari semua sisi, sepertinya, kisah dalam novel ini masih juga tepat dan pas dengan masa kini. Sayangnya banyak pembaca novel yang lebih senang membaca kisah yang ringan tanpa mereka harus berpikir mencerna apa yang ada di balik pembuatan novel tersebut.

Novel ini mengisahkan tentang tipe tiga tokoh cerita yakni, Wak Katok, Pak Haji dan Buyung. Wak Katok dan Pak Haji adalah tipe pemimpin yang mewakili watak pemimpin dan politisi bangsa Indonesia ketika itu. Wak Katok adalah tokoh yang menguasai mantra-mantra tapi semuanya palsu. Ia juga menggunakan jimat palsu, munafik, lalim, suka menindas. Sedangkan Pak Haji adalah pemimpin yang intelek namun penakut, tidak berani bertindak, suka mengasingkan diri dari permasalahan masyarakat demi keselamatan diri sendiri. Sedangkan Buyung adalah seorang pemuda yang penuh dengan idealisme sejati.

Unsur ekstrinsik novel ini yaitu khususnya yang berhubungan dengan kondisi kemasyarakatan, tidak lepas dari masalah ketidakadilan, masalah penindasan terhadap kaum lemah, dan hati nurani. Harimau! Harimau! tak pelak lagi merupakan kritik sosial politik terhadap masyarakat. Hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh pribadi pengarangnya yang memang selalu berkecimpung dalam masalah-masalah politik dan sosial. Sehingga walaupun novel ini mengambil setting di hutan-hutan, namun sebenarnya tidak lepas dari pengungkapan kehidupan para pemimpin yang sewenang-wenang, yang lalim dan tidak adil menurut pengarang. Harimau adalah simbol kesewenangan dalam hati manusia yang harus dibunuh, untuk dapat menjadi manusia sejati yang mencintai sesamanya. Harimau adalah simbol pemimpin besar dan berwibawa tetapi sebenarnya palsu.

Tema dalam novel Harimau! Harimau! adalah mengenai masalah kebobrokan seorang pemimpin. Yaitu, Wak Katok yang selalu diagungkan oleh para pengikutnya yang sedang mencari damar di hutan agar dihormati, disegani, dan menjadi sakti. Gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa langsung dan perbandingan.

Dari sisi alur, novel ini memiliki alur sendiri. Untuk bagian pertama dan kedua, Muchtar Lubis memakai alur pemikiran. Maksudnya, ia lebih mementingkan pemikiran yang dicetuskan oleh tokohnya ketimbang tokoh dan alurnya sendiri. Pada bagian ketiga, Mukhtar Lubis menggunakan alur progresif alias maju. Ini terlihat dari tahapan-tahapannnya. Yaitu, tahap pengenalan, tahap penguatan, tahap puncak alias klimaks, tahap peleraian, dan tahap penyelesaian.

Adapun sudut pandang yang digunakan dalan novel Harimau! Harimau! adalah sudut pandang orang ketiga. Hal ini dikarenakan dalam kisahannya pengarang mengacu pada tokoh-tokoh cerita dengan menggunakan kata ganti orang ketiga (ia, dia), atau menyebut nama tokoh.

Seorang Mochtar Lubis yang cukup mapan dalam ilmu agama, tentunya tahu kalau karyanya akan menjadi amal jariyahnya bila karya itu baik dan membawa kebaikan. Tidak heran kalu nilai moral sangat kental terdapat di dalam novel Harimau Harimau itu. Novel yang mengajarkan nilai keberanian dan tidak hanya teori.

Nilai-nilai pencarian ilmu sehingga tidak taklik buta dan tidak menggunakan logika. Novel yang mengedepankan niat dan tekad baja dalam mencari kebenaran yang hakiki. Kemauan untuk belajar dan memilih sesuatu yang dianggap benar adalah satu hal yang ditonjolkan. Kisah kematian demi kematian akibat dimakan oleh harimau itu menunjukkan kebodohan ketika tidak percaya pada diri sendiri. Kalau tidak mampu memimpin dan mengendalikan diri sendiri, maka orang lainlah yang memberi perintah. Padahal belum tentu perintah itu benar dan akan menyelamatkan diri.

Jika dalam dunia nyata, musuh berupa hewan buas atau penjahat akan sangat mudah dilihat secara kasat mata serta dikalahkan, maka musuh terbesar yang ada dalam diri setiap manusia, berupa niat buruk dan nafsu, sering tidak terlihat dan sulit ditaklukkan. Itulah harimau yang ada dalam diri setiap manusia, dan jadi kunci keberhasilan setiap orang untuk sukses menaklukkan musuh di luar dirinya. Pesan moral itu yang coba diselipkan oleh penulis novel ini.

Post a Comment

Luangkan sedikit waktu Anda untuk berkomentar. Komentar Anda sangat bermanfaat demi kemajuan blog ini. Berkomentarlah secara sopan dan tidak melakukan spam.