Unsur Intrinsik dan Ektrinsik Hikayat Amir Lengkap

Analisis Hikayat Amir ini dibagi menjadi tiga pembahasan. Pada bagian pertama berupa rangkaian cerita dari Hikayat Amir. Pada Bagian kedua berisikan unsur intrinsik dari Hikayat Amir yang terdiri dari tema cerita, latar tempat, latar waktu, latar suasana, alur cerita, tokoh, penokohan, gaya bahasa, sudut pandang dan amanat yang terdapat dalam Hikayat Amir. Bagian ketiga berisi rincian nilai-nilai eksternal yang mempengaruhi dan terkandung dalam cerita Hikayat Amir seperti nilai moral, nilai sosial maupun nilai budaya.
Hikayat Amir

Hikayat Amir


Dahulu kala di Sumatera, hiduplah seorang saudagar yang bernama Syah Alam. Syah Alam mempunyai seorang anak bernama Amir. Amir tidak memanfaatkan uangnya dengan baik. Setiap hari dia membelanjakan uang yang diberi ayahnya. Karena sayangnya pada Amir, Syah Alam tidak pernah memarahinya. Syah Alam hanya bisa mengelus dada.

Lama-kelamaan Syah Alam jatuh sakit. Semakin hari sakitnya semakin parah. Banyak uang yang dikeluarkan untuk pengobatan, tetapi tidak kunjung sembuh. Akhirnya mereka jatuh miskin. Penyakit Syah Alam semakin parah.

Sebelum meninggal, Syah Alam berkata ”Amir, Ayah tidak bisa memberikan apa-apa lagi padamu. Engkau harus bisa membangun usaha lagi seperti Ayah dulu. Jangan kau gunakan waktumu sia-sia. Bekerjalah yang giat, pergi dari rumah. Usahakan engkau terlihat oleh bulan, jangan terlihat oleh matahari.”. ”Ya, Ayah. Aku akan turuti nasihatmu.”

Sesaat setelah Syah Amir meninggal, ibu Amir juga sakit parah dan akhirnya meninggal. Sejak itu Amir bertekad untuk mencari pekerjaan. Ia teringat nasihat ayahnya agar tidak terlihat matahari, tetapi terlihat bulan. Oleh sebab itu, kemana-mana ia selalu memakai payung.

Pada suatu hari, Amir bertemu dengan Nasarudin, seorang menteri yang pandai. Nasarudin sangat heran dengan pemuda yang selalu memakai payung itu. Nasarudin bertanya kenapa dia berbuat demikian. Amir bercerita alasannya berbuat demikian. Nasarudin tertawa. Nasarudin berujar, ” Begini, ya., Amir. Bukan begitu maksud pesan ayahmu dulu. Akan tetapi, pergilah sebelum matahari terbit dan pulanglah sebelum malam. Jadi, tidak mengapa engkau terkena sinar matahari. ”

Setelah memberi nasihat, Nasarudin pun memberi pijaman uang kepada Amir. Amir disuruhnya berdagang sebagaimana dilakukan ayahnya dulu. Amir lalu berjualan makanan dan minuman. Ia berjualan siang dan malam. Pada siang hari, Amir menjajakan makanan, seperti nasi kapau, lemang, dan es limau. Malam harinya ia berjualan martabak, sekoteng, dan nasi goreng. Lama-kelamaan usaha Amir semakin maju. Sejak itu, Amir menjadi saudagar kaya.

Sumber : Bina Bahasa dan Sastra Indonesia kelas IV: Erlangga

Unsur Intrinsik Hikayat Amir


Tema:
Tema yang diangkat dalam Hikayat Amir ini sejalan dengan pepatah Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Singkatnya, tema yang diangkat dalam Hikayat Amir berupa Usaha dan kerja keras untuk mencapai keberhasilan.

Latar:
Latar Tempat: Sumatera
Bukti: "Dahulu kala di Sumatera, hiduplah seorang saudagar yang bernama Syah Alam..."

Latar Waktu: Suatu Hari (tidak disebutkan), siang hari dan malam hari.
Bukti: "Pada suatu hari, Amir bertemu dengan Nasarudin, seorang menteri yang pandai...", "Amir lalu berjualan makanan dan minuman. Ia berjualan siang dan malam".

Latar Suasana: Sedih dan bahagia
Bukti: "Akhirnya mereka jatuh miskin. Penyakit Syah Alam semakin parah...", "Amir bercerita alasannya berbuat demikian. Nasarudin tertawa..."

Alur:
alur yang digunakan dalam Hikayat Amir adalah alur maju

Tokoh dan Penokohan:
Amir: Penurut, Berpikiran dangkal
Ayah: Baik hati, Bijaksana
Nasarudin: Baik hati, Cerdas

Gaya Bahasa:
Gaya Bahasa yang digunakan dalam Hikayat Amir salah satunya adalah majas personifikasi. Majas personifikasi yaitu majas yang membuat atau menyamakan benda mati dapat bergerak atau bernafas seperti manusia.

Bukti: "Bekerjalah yang giat, pergi dari rumah. Usahakan engkau terlihat oleh bulan, jangan terlihat oleh matahari.”

Sudut Pandang:
Sudut pandang yang digunakan dalam Hikayat Amir Adalah sudut pandang orang ketiga, dimana penulis berperan sebagai orang ke tiga yang serba tahu dan menceritakan alur Hikayat Amir sejak awal hingga akhir.

Amanat:
- Gunakanlah harta yang dimiliki sebaik mungkin sehingga dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
- Berbaktilah kepada kedua orang tua.
- Jangan pernah putus asa dan teruslah berusaha.

Unsur Ekstrinsik Hikayat Amir


Nilai Moral
- Janganlah menjadi orang yang boros
- Berpikirlah sebelum bertindak
- Bekerja keraslah untuk mencapai keberhasilan

Nilai Sosial
- Patuhlah kepada kedua orang tua
- Saling mengasihi antar sesama manusia

Nilai Budaya
- Tolong menolonglah antar sesama manusia

Post a Comment

Luangkan sedikit waktu Anda untuk berkomentar. Komentar Anda sangat bermanfaat demi kemajuan blog ini. Berkomentarlah secara sopan dan tidak melakukan spam.